18.51
2
KATA PENGANTAR
Bismillahhirrohmanirrohim.
Segala puji bagi Allah yang memberikan rahmat dan ni’mat-Nya kepada kita sekalian sehingga penulisan sejarah singkat MBAH QORIBAH ini dapat kita laksanakan. Sholawat serta salam semoga tetap terlimpahkan kepada baginda Muhammad SWT.yang telah memberikan petunjuk kepada kita sekalian berupa iman dan islam.
Sejarah singkat MBAH QORIBAH dan silsilah keluarga ini disusun bertujuan untuk:
1.       Meningkatkan hubungan silaturrahim antar sesama kerabat .
2.       Menunjukkan sejarah yang sebenarnya tentang asal usul Ledug.
3.       Menunjukkan kelebihan-kelebihan orang terdahulu untuk dijadikan teladan orang-orang sekarang.
Pemaparan sejarah dan silsilah ini berdasarkan atau bersumber dari para sumber yaitu sesepuh-sesepuh desa yang mengetahu betul tentang sejarah MBAH QORIBAH, dan hal ihwal yang terjadi pada saat itu. Tentunya masih jauh dari sempurna.lebih dari itu, penyusunan sejarah singkat MBAH QORIBAH ini adalah merupakan pengantar pelaksanaan Haul MBAH QORIBAH dan sesepuh desa ledug pada 15 Desember 2010 atau 10 Muharram 1432 M.
Akhirnya tulisan singkat ini mudah-mudahan beranfaat bagi kita sekalian. Masukan-masukan yang membangun sangat kami nantikan demi kesempurnaan tulisan ini.
                                                                                            Ledug, 7 Desember 2010
                                                                                                                 Ttd
                                                                                                      PANITIA HAUL



SEJARAH SINGKAT
   I.            RIWAYAT SINGKAT MBAH QORIBAH
“Qoribah” adalah nama julukan atas nama anak laki-laki pertama beliau yaitu “Qoribah”. Hal ini sudah menjadi kebiasaan orang-orang untuk menyebut orang tua dengan panggilan anak pertama. Nama aslinya adalah ABDURRAHMAN. Konon beliau berasal dari banten, Jawa Barat. Ayahanda beliau adalah R. Jimat. Beliuau sendiri mempunya tiga orang saudara, mereka adalah:
1.       Mbah Nurmadin (Purworejo, Mojokerto)
2.       Mbah Gribah (Kelapa Sawit, Lumajang)
3.       Mbah Kurimah (Kembang Kuning, Surabaya)
Riwayat pendidikan beliau belum diketahui oleh narasumber.
 II.            MASA PENGEMBARAAN
Pengembaraan merupakan suatu tradisi orang-orang terdahulu untuk memperoleh tujuan yang mereka inginkan. Salah satunya adalah Mbah Nurmaddin dan saudara-saudaranya.
Setelah mereka mendapat restu dari ayahanda mereka, maka mereka memulai pengembaraan menyusuri pulau Jawa sehingga sampai di Ampel, Surabaya.Setelah beristirahat sejenak, mereka melanjutkan perjalanan menuju ke arah barat dan mereka sampai di hutan di wilayah Mojokerto yang sekarang bernama desa Purworejo. Ditempat inilah kemudian Mbah Nurmaddin, kakak tertua Mbah Qoribah mulai membuka perkampungan baru yang beliau namakan PURWOREJO.
Setelah sekian lama di Perworejo, maka Mbah Nurmadin mempersilahkan kedua adiknya untuk mencari lahan baru. Mbah Qoribah diperintahkan mencari tempat di sebelah Bangil. Mula-mula beliau membuka lahan di Pandaan tepatnya di Desa Wangi, karena ada hal yang diragukan dalam hati beliau dan merasa tidak cocok dengan tempat tersebut, beliau pindah lagi ke lereng G. Arjuna. Beliau berhenti di Dusun Wilo dan sempat bermukim di dusun tersebut. Karena dalam hati beliau masih ada keragu-raguan maka meninggalkan dusun tersebut.
Atas dasar kemauan dan niat yang kuat inilah beliau meneruskan perjalanan dari Dusun Wilo naik ke lereng  Arjuna. Perjalanan yang melelahkan naik turun bukit membuat beliau kelelahan, sehingga beliau berniat istirahat sejenak. Saat itulah menemukan air jernih yang mengalir tiada habisnya dan muncullah dalam hati keinginan membuka perkampungan baru di tempat tersebut. Setelah dirasa cukup untuk istireahat, beliau terus naik dan sampai di tempat yang terletak tebing-tebing yang curam, tempat tersebut mengandung banyak mata air sehingga akhirnya Mbah Qoribah mulai membuka lahan dan bertempat tinggal di dini.
Tempat yang pertama kali beliau buka adalah dusun Mbak ( nama dusun sebelum digusur SKSD PALAPA), tepatnya adalah sebelah barat tower SKSD PALAPA.
Ketika selesai melakukan solat dzuhur,beliau menebang pohon disaat itulah muncul harimau putih besar (konon harimau itu bisa bicara dengan Mbah Qoribah). Harimau tersebut tidak terima atas penebangan hutan yang dilakukan oleh Mbah Qoribah karena merasa hutan dikawasan terswbut merupakan daerah kekuasaannya. Maka terjadilah pertempuran sengit antara keduanya selama tiga hari tiga malam dan akhinya harimau tersebut menyerah kalah dan bertekuk lutut, juga bersedia menjadi pengikut Mbah Qoribah.  Harimau putih inilah yang kemudian menjaga tanaman Mbah Qoribah sewaktu beliau bersilaturrohim keluar daerah ke tempat saudara-saudaranya di Purworejo, Surabaya atau keperluan lainnya. Hal ini sering beliau lakukan sehingga hubungan baik antara kerabat Ledug dengan Purworejo berlanjut sampai sekarang.
Pembukaan hutan terus berlanjut sehingga sampai di dekitar Granjangan. Disinilah beliau bertemu dengan ular besar dan terjadilah pertempuran hidup mati antara keduanya. Akhirnya pertempuran tadi, ular raksasa tersebut menjadi dua bagian, kepalanya berada di barat dan ekornya berada di timur. Karena besarnya ular tersebut, sampai-sampai darah yang keluar mengalir tujuh hari tujuh malam.
    III.            HUBUNGAN SOSIAL KEMASYARAKATAN
Setelah kurang lebih lima tahun mbak terkenal sehingga sampai di Surabaya (karena pada waktu itu Mbah Qoribah sering pergi ke Surabaya dan menyebarkannya kepada teman dan kerabatnya) sehingga banyak orang yang ingin mengunjungi dan bertempat tinggal di dusun tersebut. Mbah Qoribahpun memboyong istriya Nyai Hj. Fatimah ke dusun tersebut. Diantara yang datang dan bertempat tinggal di dusun Mbak setelah Mbah Qoribah adalah:
1.       Mbah Rambat (nama Mbah Rambat ini disebabkan karena bliau merambat (istilah jawa) menyusuri lereng Gunung Welirang dan Gunung Arjuna)
2.       Mbah Jenggot
3.       Mbak Telok, dll.
Para pendatan ini segera menyesuaikan diri dengan lingkungan sekitar. Kehidupan sehari-hari berjalan dengan harmonis, satu sama lain saling bekerja sama, tolong menolong membuka lahan baru, baik untuk tempat tinggal maupun untuk lahan pertanian.
Setelah penduduk di Dusun Mbak tersebut berkembang dan wilayahnya pun mulai meluas sampai ke selatan (yang sekarang Lingkungan Geneng) dan ke timur (Lingkungan Tulang, Paras, dan Jeruk). Maka atas prakarsa Mbah Qoribah sebagai sesepuh dusun dibuatlah suatu peraturan yang menyangkut pembagian tugas dan pada saat itu ditetapkan:
1.       Mbah Qoribah sebagai pemangku agama Islam (Mudin) yang mengurusi masalah agama
2.       Mbah Tolok sebagai petinggi
3.       Mbah Rambat sebagai perangkat
4.       Mbah Tempayak sebagai perangkat
Pembagian tugas tersebut juga mencakup masalah pertanian yaitu irigasi yang menjadi kebutuhan pokok para petani. Namun demikian mereka saling membantu satu sama lain sehingga budaya gotong royong sangat terbina waktu itu.
Khidupan yang harmonis ini mereka wariskan sampai ke anak cucu mereka.
    IV.            BERUMAH TANGGA DENGAN NYAI Hj. SITI FATIMAH
Setelah kurang lebih lima tahun Mbah Qoribah tinggal di dusun Mbak sebagaimana sudah dijelaskan di atas dengan kadaan beliau dirasa sudah makmur maka beliau berkeinginan untuk berumah tangga.  Beliau berangkat keluar daerah (tidak diketahui nama daerah tersebut) dan bertemu dengan seorang wanita yang bernama Pramuna atau Hj. Siti Fatimah, wanita itu kemudian dijadikan istri dan diboyong ke dusun Mbak. Dari perkawinan Nyai Hj. Siti Fatimah beliau dikaruniai 9 anak (ada yang mengatakan 7 anak) di antaranya adalah:
1.       Mbah Karnawi
2.       Mbah Pura
3.       Mbah Salimun
4.       Mbah Wariyo
5.       Mbah Mahyo
6.       Mbah Kasemo
7.       Mbah Madarim
8.       Mbah Ramilah
9.       Mbah Sarto
Setelah sekian lama berumah tangga dan dikaruniai anak umurnya pun semakin hari berkurang. Mbah Qoribah pun wafat (belum diketahui tahun berapa wafatnya dan berapa umurnya) ada sumber yang mengatakan bahwa beliau wafa pada tanggal 19 Muharram (Sura) dan dimakakman di pemakaman umum lingkungan Ledok.

Sedangkan istri beliau, Nyai Hj. Siti Fatimah meninggal di dusun Ganti sewaktu menengok cucunya (Nyai Ramu). Beliau dimakamkan di sana. Hal ini bisa dibuktikan dengan adanya kursi yang digunakan untuk membopong beliau dan sampai sekarang kursi tersebut masih terjaga dengan baik.

2 komentar:

  1. Assalamualaikum...
    Mohon info silsilah Mbah Qoribah yg lebih lengkapnya?
    Atau contact person keluarga besar Bani Qoribah yg bisa saya hubungi, trims.

    BalasHapus
    Balasan
    1. waalaikumsalam wr. wb.
      untuk lebih jelas bisa menghubungi contact person admin
      http://swararinggit.blogspot.com/p/contact-us.html

      Hapus